Iklan Billboard 970x250

Hilangkan Stigma, Kenali Lebih Jauh Gejala PTSD Berikut Ini

Iklan 728x90

Hilangkan Stigma, Kenali Lebih Jauh Gejala PTSD Berikut Ini

Di Indonesia, tidak sedikit jenis gangguan psikologis yang belum menemukan perhatian. Salah satunya ialah post-traumatic stress disorder atau PTSD. Pasalnya, fenomena PTSD memang terkadang susah dikenali, karena lumayan serupa fenomena depresi.

PTSD ialah gangguan psikologis yang muncul dampak suatu kejadian yang memunculkan trauma laksana kecelakaan, kekerasan, atau perang. Uniknya, fenomena PTSD tidak tidak jarang kali langsung hadir segera sesudah kejadian traumatis tersebut terjadi.

PTSD didiagnosis sesudah seseorang mengalami fenomena selama minimal satu bulan sesudah kejadian traumatis. Namun,seseorang dapat saja baru mulai menikmati gejalanya, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah merasakan kejadian traumatis.

Apa saja situasi yang tergolong sebagai fenomena PTSD?

Gejala PTSD secara umum dipecah menjadi empat tipe, yaitu: intrusive memory (gangguan pada ingatan), avoidance (menghindar), perubahan teknik pikir menjadi lebih negatif, dan evolusi reaksi secara jasmani maupun emosional. Gejala tersebut, bisa bertolak belakang antara satu penderita PTSD dengan yang lainnya.

1. Gangguan pada ingatan
Penderita PTSD akan paling sulit guna melupakan kejadian yang membuatnya trauma. Seberapa besarpun usaha guna menghapus memori tersebut, kejadian traumatis tersebut akan terus teringat, bahkan terbawa dalam mimpi. Penderita PTSD juga dapat tiba-tiba memikirkannya di siang hari.

Kembalinya memori tersebut dapat menciptakan penderita PTSD seakan-akan merasa kembali merasakan kejadian tersebut. Hal ini menciptakan penderita PTSD bakal merasa:

Cemas
Takut
Bersalah
Curiga
Segala format emosi tersebut, lantas akan menciptakan penderita tiba-tiba merasa kedinginan, menggigil, sakit kepala, detak jantung menjadi cepat, dan merasakan serangan panik.

2. Menghindar
Menghindar di sini berarti Anda mengerjakan segala teknik untuk menjauhi hal-hal yang sehubungan dengan kejadian tersebut. Gejala PTSD yang satu ini bakal terlihat laksana ini.

Anda akan berjuang untuk tidak memikirkannya.
Anda tidak ingin berkata mengenai kejadian tersebut.
Anda bakal menghindari siapapun dan apapun yang sehubungan dengan kejadian tersebut, tergolong menghindari tempat dan pekerjaan tersebut.
Menghindar dalam urusan ini pun tidak hanya diutamakan untuk segala urusan yang sehubungan dengan kejadian. Penderita PTSD, juga dapat menghindari orang beda secara umum. Sehingga, rasa kesepian sering muncul.

3. Perubahan teknik pikir
Setelah merasakan kejadian yang menciptakan trauma, teknik pikir kita mungkin dapat berubah, seperti:

Selalu berpikiran negatif terhadap diri kita dan orang lain.
Merasa tidak punya masa depan.
Mengalami gangguan daya ingat, tergolong melupakan aspek-aspek urgen dari kejadian traumatis tersebut.
Kesulitan mengawal hubungan baik dengan kerabat.
Merasa tidak lagi dapat dekat dengan rekan atau saudara.
Menjadi tidak tertarik lagi melakukan pekerjaan yang semula menjadi kegemaran Anda.
Kesulitan guna berpikiran positif.
Tidak mempunyai kepekaan secara emosional.
4. Perubahan reaksi jasmani dan emosi
Orang yang merasakan PTSD bakal menjadi lebih gampang kaget atau takut. Ia pun akan tidak jarang kali merasa waspada secara berlebihan. Di samping kedua urusan tersebut, kondisi-kondisi inilah ini juga dapat dirasakan.

Memilih mengerjakan hal-hal yang bisa membahayakan kesehatan, laksana mengonsumsi alkohol secara berlebihan, dan menyetir ugal-ugalan.
Sulit tidur.
Sulit konsentrasi.
Mudah marah dan berperilaku agresif.
Merasa malu dan bersalah terhadap kejadian traumatis yang dialami.
Merasa punya fenomena PTSD? Tanyakan 8 urusan ini ke diri Anda

Setelah mengenali sekian banyak  gejala PTSD di atas, Anda barangkali merasa pun mengalami urusan yang serupa. Namun butuh diingat, urusan itu belum pasti menandakan kita menderita PTSD.

Delapan pertanyaan di bawah ini, dapat membantu Anda guna lebih mengenali fenomena yang dirasakan.

Apakah kita pernah merasakan atau menonton suatu kejadian traumatis atau kejadian yang menakut-nakuti nyawa?
Apakah empiris tersebut menciptakan Anda merasa paling ketakutan atau merasa tidak dapat mendapatkan bantuan dari siapapun?
Apakah Anda kendala untuk melupakan kejadian itu dan terus menerus memikirkannya?
Apakah kita jadi lebih gampang kaget dan lebih gampang marah, bila dikomparasikan dengan sebelum kejadian?
Apakah Anda berjuang sebisa barangkali menghindari kegiatan, berinteraksi dengan orang-orang, atau memikirkan urusan yang sehubungan dengan kejadian tersebut?
Apakah Anda merasakan gangguan istirahat atau susah berkonsenterasi setelah merasakan kejadian tersebut?
Apakah fenomena tersebut telah Anda rasakan lebih dari satu bulan?
Apakah tekanan dampak kejadian tersebut menciptakan Anda susah melakukan pekerjaan sehari-hari laksana bekerja?
Apabila Anda membalas “Ya” pada tiga atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan di atas, maka usahakan memeriksakan diri ke dokter spesialis kejiwaan, guna meyakinkan bahwa yang kita alami ialah PTSD.

Jangan pernah memutuskan sendiri fenomena yang kita alami, sebagai sebuah gangguan mental. Mendiagnosis diri sendiri terpapar gangguan mental ialah hal yang riskan dan tidak cukup tepat. Apalagi, andai Anda sampai menggali sendiri obat guna mengatasi situasi tersebut.

Ingat, tidak seluruh kejadian traumatis mengakibatkan PTSD

Setelah merasakan kejadian traumatis, nyaris semua orang akan menikmati paling tidak sedikit fenomena PTSD. Saat ketenteraman terancam, wajar andai Anda merasa hendak menarik diri dari lingkungan sekitar.

Mengalami momok adalahhal yang wajar. Begitu pula andai Anda merasa ketakutan, atau susah untuk menerbitkan kejadian itu dari pikiran. Hal-hal tersebut ialah respons normal dari suatu kejadian traumatis.

Bagi mayoritas orang, kondisi-kondisi tersebut melulu akan dirasakan dalam masa-masa singkat selama sejumlah hari atau minggu. Selanjutnya, urusan tersebut akan hilang dengan sendirinya. Namun, pada penderita PTSD, fenomena tersebut tidak mereda, bahkan sesudah waktu yang lama atau bahkan dirasa meningkat parah.

Mengunjungi psikiater atau psikolog barangkali belum lumrah dilaksanakan di Indonesia. Namun, bukan berarti kita tidak dapat melakukannya. Penyakit kejiwaan sama pentingnya guna diobati, laksana halnya penyakit fisik.

Jika kita tidak keberatan guna berkonsultasi dengan dokter saat demam dan batuk, mengapa harus malu untuk mendatangi psikiater saat stres? Keduanya sama-sama penyakit, yang dapat disembuhkan dengan penanganan tepat tepat.

sumber
SHARE

Related Posts

There is no other posts in this category.
Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Iklan Tengah Post